LEBIH MENARIK, EDUKASI DAN MENGINPIRASI

Monday, November 9, 2020

IBU ku adalah Inspirasi ku

 Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya.Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. 


Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. 

Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. 

Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. 

Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. 

Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. 

Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. 

Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. 

Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. 

Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. 

Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. 

Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. 

Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.


Hee Jin, Perempuan Bertumbuh Pendek dengan Mimpi Setinggi Langit

 Seorang perempuan bertubuh pendek berenang dengan lincah di salah satu kolam di Korea Selatan. Hee Jin Jang namanya, penyandang disabilitas sejak lahir akibat pseudoachondroplasia.


Pseudoachondroplasia adalah konsidi perawakan pendek yang tidak proporsional. Ditandai dengan kelainan bentuk tungkai bawah dan lemahnya ligament atau tali sendi.

Seperti tampak pada tayangan SBS What On Earth, dengan keadaan seperti ini, Hee Jin tetap aktif bergerak. Ia bermimpi suatu saat dapat menyelam di laut yang indah.

"Mengambang di air mungkin tidak mudah baginya dan dia berusaha yang terbaik, dia bersemangat," ujar salah satu pelatih renang.

Setelah berenang, perempuan berusia 33 tahun ini bergegas ke suatu tempat. Dengan menggunakan kursi roda listrik ia mendatangi tempat tersebut.

Ketika memasuki gedung, ia harus menggunakan dua tongkat penyangga dan menaiki tangga. Saat menaiki lift, ia harus menekan tombol lift menggunakan ujung tongkatnya. Tubuhnya yang pendek membuatnya tak bisa menggapai tombol.

Sampailah ia pada suatu ruangan, ternyata ini adalah lembaga pendidikan illustrator. Perempuan berambut panjang ini memang menyukai seni dan biasa menghabiskan waktu untuk menggambar dari pukul 10 pagi hingga 11 malam.

“Motto hidup saya adalah melakukan apa yang membuat saya sangat bahagia,” ujarnya.

Sempat Dibully

Menjadi seorang penyandang disabilitas yang memiliki tubuh tidak proporsional membuatnya sering mendapat hinaan. Saat usia sekolah, pernah suatu waktu ia duduk sendiri di kelas kemudian temannya membuka pintu dan berkata “Tidak ada siapa pun di sini”.

Padahal jelas-jelas orang itu melihat Hee Jin. Hal tersebut menyakiti hatinya. "Saat saya di sekolah menengah, saya tidak ingin meninggalkan rumah karena semua orang menatap saya. Biasanya saya diam di rumah ketika siang hari dan keluar pada pukul 1 sampai 3 pagi".

Pada 2007, Hee Jin melanjutkan pendidikan di Departemen Manajemen Hotel Universitas Kyung Hee. Namun, sendi kaki yang lemah membuat nyerinya semakin parah. Ia menjalani operasi kaki dan harus berbaring di tempat tidur selama 2 tahun.

Kondisi Sang Ibu

Kondisi Hee Jin dengan tubuh pendek ternyata sama dengan sang ibu. Ketika sampai di rumah, terlihat sang ibu pun memiliki tubuh pendek tidak proporsional.

Di balik kondisi tubuhnya, di mata sang ibu, Hee Jin adalah pribadi yang aktif. "Dia selalu melakukan sesuatu kecuali saat dia sakit. Dia tidak pernah mengatakan pada saya bahwa dia merasa kesulitan," ujar sang ibu.

Mengingat waktu yang terbuang selama dua tahun, perempuan gigih ini ingin membayarnya dengan berbagai kegiatan yang bisa dijalani. Hingga kini, puluhan sertifikat berhasil ia kumpulkan.

Mulai dari konselor psikologis seni, badan pendukung aktivitas penyandang cacat, desain konten web, sertifikat toko bunga, pengasuh, meningkatkan kehidupan para penyandang cacat, hingga sertifikat kuliah instruktur HAM.


Koma 5 Bulan Usai Melahirkan, Tangis Ibu Ini Pecah Saat Mencium Bayinya Untuk Pertama Kali

 Melahirkan bayi dengan sehat dan selamat adalah momen yang paling bermakna dan membahagiakan bagi seorang ibu di dunia. 

Sentuhan tangan pertama seorang ibu kepada bayinya yang baru lahir memberikan kesan yang penuh kasih sayang.


Tapi, hal itu tak sempat dialami seorang ibu asal Malaysia ini.

Dilansir Gridhot.ID dari akun Facebook Hasirah Nujiey Selasa (2/4/2019), seorang ibu bernama Nur Fadila (28) ini tak mampu merasakan sentuhan bayinya pertama kali setelah melahirkan, pasalnya setelah melahirkan ia mengalami koma selama lima bulan.

Namun semuanya berubah ketika ia sudah tersadar dari koma dan masih mengenali anak yang dilahirkan ke dunia ini walaupun belum sempat menyentuh anaknya itu.

Rasa pilu dan gembira menyelimuti perempuan yang kerap disapa dengan nama Molka ini.

Awalnya ketika akan melahirkan pada 18 November 2018 lalu, Mokla diketahui mengalami komplikasi, jantungnya dikatakan berhenti secara tiba - tiba.

Kakak Mokla, Nur Hasirah pada saat itu mengatakan adiknya terlambat enam hari untuk melahirkan.

Dan akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan proses kelahiran bayi Mokla dengan caesar.

"Dia masuk rumah sakit terlambat, harusnya enam hari sebelum itu, maka dokter menganjurkan untuk dilakukan operasi."

Nur Fadila akhirnya merasakan sentuhan bayinya untuk pertama kalinya setelah mengalami koma selama lima bulan pasca melahirkan. (Facebook Hasirah Nujiey)

"Sebelum masuk ruang bedah, keadaannya masih sadar dan stabil. Namun, ditengah tengah proses melahirkan tiba - tiba jantungnya berhenti. Namun dia sadar kembali 10 menit setelah kelahirannya. hal itu dikarenakan oksigen di kepala dia kurang sebab dia koma sampai sekarang," kata Nur Hasirah.

Setelah lima bulan koma, akhirnya ia sadar dan bisa merasakan sentuhan pertama bayinya yang bernama Mohd Syahmi.

Nur Fadila akhirnya merasakan sentuhan bayinya untuk pertama kalinya setelah mengalami koma selama lima bulan pasca melahirkan. (Facebook Hasirah Nujiey)

Semua orang yang berada disekitar Mokla meneteskan air mata pilu dan gembira menyaksikan momen itu.

Mokla pun tak mampu berkata - kata, air matanya tak berhenti mengalir saat menggendong bayinya selama dua jam.

Nur Fadila akhirnya merasakan sentuhan bayinya untuk pertama kalinya setelah mengalami koma selama lima bulan pasca melahirkan (Facebook Hasirah Nujiey)

Walaupun sudah sadar, dokter mengatakan bahwa Mokla tak mampu sembuh secara normal karena ia mengalami cidera pada otaknya.

Nur Fadila akhirnya merasakan sentuhan bayinya untuk pertama kalinya setelah mengalami koma selama lima bulan pasca melahirkan.

Sang suami Mohd Saiful (29) pun akhirnya memutuskan berhenti kerja sementara waktu untuk menjaga istri dan bayinya di rumah sakit.